Silahkan copas artikel dari blog ini karena artikel di blog ini adalah hasil dari copas blog lain

Evolusi


Evolusi merupakan perubahan biologis yang dialami mahluk hidup seiring berjalannya waktu. Ada banyak sekali bukti dari banyak sumber independen mendukung keberadaan evolusi, yang tidak bertentangan dengan keyakinan agama ataupun keyakinan kepada Tuhan. Ilmuan menggunakan teori evolusi untuk menjawab pertanyaan seperti: “Mengapa ada banyak sekali jenis tanaman dan spesies hewan?” dan “Bagaimana bisa kesamaan diantara spesies dapat dijelaskan?”


Beberapa kritik mengenai teori evolusi mengklaim kalau ilmuan tidak sependapat mengenai konsep evolusi, namun faktanya tidak demikian. Mereka memang tidak sependapat mengenai detail cara proses ini terjadi, namun para ilmuan tidak mempertanyakan keberadaan evolusi.
Ilmuan mempelajari evolusi dalam dua tingkatan populasi. Evolusi mikro terdiri dari perubahan genetik kecil yang terjadi dalam beberapa generasi. Evolusi makro adalah pola perubahan yang lebih luas dalam ribuan generasi sehingga terbentuk spesies baru. Kedua tingkatan evolusi ini menyebabkan populasi dan spesies berubah seiring waktu.
Perubahan evolusi memiliki dua model. Gradualisme adalah model perubahan yang terjadi lambat dengan laju yang tetap. Keseimbangan dipertepat (punctuated equilibrium) merupakan perubahan cepat dalam tempo singkat yang menginterupsi perubahan kecil yangterjadi dalam waktu yang lama. Evolusi kehidupan di planet ini terjadi baik secara gradual maupun dipertepat.


Dua model perubahan evolusi
Perubahan evolusi mikro menyebabkan alel-alel dalam sebuah populasi menjadi lebih umum atau lebih sedikit seiring waktu. Empat gaya evolusi mikro adalah seleksi alammutasialiran gen dan apungan genetik.
Seleksi alam mengadaptasi mahluk hidup pada lingkungan mereka lewat menyingkirkan sejumlah sifat sementara mendukung sifat lainnya. Seleksi alam berdasarkan pada empat prinsip utama:
  1. Semua spesies menghasilkan lebih banyak keturunan daripada yang dapat didukung oleh lingkungan, membatasi sumberdaya.
  2. Semua populasi beraneka ragam secara internal; tidak ada dua individual yang mutlak sama.
  3. Lebih banyak individu yang ada daripada yang dapat bertahan hidup. Mereka berjuang memperebutkan sumberdaya – mereka yang memiliki manfaat yang diwariskan berhasil bertahan hidup.
  4. Individu menurunkan manfaat ini ke keturunannya.
Belalang kerdil adalah contoh yang bagus untuk proses seleksi alam. Belalang ini hidup di padang rumput yang hijau. Sifat warna atau gen mereka memiliki dua alel: hijau dan hitam. Karena belalang kerdil dengan alel hijau menyatu dengan lingkungannya dan tersembunyi dari burung predator, burung  lebih sering memakan belalang hitam. Dengan demikian, belalang hijau bertahan hidup dan menghasilkan banyak keturunan daripada belalang hitam. Namun hijau tidak selalu menjadi alel terbaik: saat terjadi kebakaran padang rumput, belalang hitam memiliki keunggulan dan frekuensi alel hitam menjadi lebih umum.


Belalang kerdil hijau

Belalang Kerdil Hitam
Contoh lain seleksi alam yang lebih sering digunakan adalah ngengat berbintik yang memiliki alel putih dan hitam. Ngengat berbintik hidup di kulit kayu berwarna putih karena lumut. Karena ngengat putih lebih menyatu dengan lingkungan, maka ngengat hitam lebih sering dimakan oleh elang. Ngengat putih memiliki banyak keturunan karena lebih bertahan hidup. Namun ketika terjadi polusi udara yang membunuh lumut, kulit kayu menjadi berubah hitam. Kali ini, ngengat putih lebih mudah dilihat oleh elang dan mereka pun dimangsa lebih sering. Ngengat hitam beruntung dan berkembang biak lebih banyak.
Mutasi adalah kemunculan alel baru secara spontan dan acak (kebetulan) yang merubah DNA mahluk individual. Sebagai satu-satunya sumber variasi baru, mutasi adalah gaya evolusi yang kuat. Tanpa mutasi, hanya mungkin menjadikan satu sifat lebih umum atau lebih sedikit. Mutasi hitam memungkinkan ngengat hitam atau belalang hitam bertahan hidup dalam lingkungan berbeda setelah mereka kehilangan lumut atau rumput kamuflasenya.
Aliran gen, atau migrasi, terjadi saat dua populasi berbagi alel. Campuran antara orang Belanda dan orang Jawa setelah orang Belanda bermigrasi ke Jawa adalah sebuah contoh aliran gen. Populasi campuran yang dihasilkan memiliki kombinasi alel yang baru.
Kadang evolusi terjadi karena peristiwa kebetulan dan tipe perubahan ini disebut apungan genetik. Bila sebuah letusan gunung berapi kebetulan menghabisi semua orang dengan darah golongan A, maka alel tipe A akan lenyap dalam populasi tersebut hingga mutasi atau aliran gen mengembalikannya.
Apungan genetik memiliki dua kasus khusus: efek pendiri dan penyempitan leher botolEfek pendiriterjadi ketika sebuah populasi kecil membangun koloni baru dan kawin dengan sesamanya; alel yang ada dalam jumlah kecil dalam populasi induk meningkat pada populasi baru. Sindrom Ellis van Creveldyang langka memiliki frekuensi yang jauh lebih tinggi (1 dalam 14) di penduduk Amish di Lancaster County daripada dalam populasi induknya (1 dalam 400) karena efek ini.
Penyempitan leher botol terjadi saat sejumlah besar individu mati dan populasi harus membangun kembali dirinya dari basis genetik yang jauh lebih kecil dari sebelumnya; populasi yang baru akan menunjukkan sedikit sekali variasi genetik. Harimau Siberia, yang jumlahnya menurun karena perburuan, menghadapi kepunahan karena alasan ini.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati


Organ-organ sensorik-elektro berkembang berdekatan dengan garis lateral, memberikan bukti kuat "bahwa kedua sistem sensorik ini berbagi warisan evolusi yang sama."

Orang mengalami dunia melalui lima panca inderanya, namun hiu, paddlefishdan beberapa vertebrata air lainnya memiliki indra keenam: Mereka mampu mendeteksi medan listrik yang lemah di dalam air dan menggunakan informasi ini untuk mendeteksi mangsanya, berkomunikasi dan menyesuaikan diri.
Sebuah studi dalam Nature Communications edisi 11 Oktober, hasil kerja selama lebih dari 25 tahun kerja, menemukan bahwa sebagian besar vertebrata – sekitar 30.000 spesies hewan darat (termasuk manusia) dan sejumlah hewan yang kira-kira sama dengan ikan pari – merupakan keturunan dari satu nenek moyang yang memiliki sistem elektroreseptif.
Nenek moyang ini kemungkinan merupakan ikan laut predator dengan penglihatan, rahang dan gigi yang baik, serta sistem garis lateral untuk mendeteksi gerakan air, terlihat sebagai garis di sepanjang sisi ikan. Hewan ini hidup sekitar 500 juta tahun yang lalu. Sebagian besar dari sekitar 65.000 spesies vertebrata yang hidup adalah keturunannya.
“Penelitian ini menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam biologi perkembangan dan evolusi, yang populer disebut sebagai ‘evo-devo’, yang sudah membuat saya tertarik selama 35 tahun,” kata Willy Bemis, profesor ekologi dan biologi evolusioner Cornell, dan penulis senior dalam makalah. Melinda Modrell, ahli syaraf dari University of Cambridge yang bertugas melakukan analisis molekuler, merupakan penulis utama makalah.
Ratusan juta tahun yang lalu, terjadi perpecahan utama dalam pohon evolusi vertebrata. Satu garis keturunan mengarah ke ikan pari, atau actinopterygians, dan yang lainnya ke ikan lobus-bersirip, atausarcopterygians, sedangkan yang terakhir memunculkan vertebrata darat.
Beberapa vertebrata darat, termasuk salamander seperti axolotl Meksiko, memiliki resepsi-elektro dan, hingga saat ini, menawarkan model terbaik bagi para ilmuwan untuk mempelajari pengembangan awal sistem sensorik. Sebagai bagian dari perubahan yang berkaitan dengan kehidupan di darat, garis keturunan yang mengarah ke reptil, burung dan mamalia sudah tidak lagi memiliki indera-elektro dan garis lateral.
Beberapa ikan pari – termasuk paddlefish dan sturgeon – tetap memiliki reseptor pada kulit kepala mereka. Dengan 70.000 reseptor-elektro pada moncong berbentuk dayung dan pada kulit kepala,paddlefish Amerika Utara memiliki array sensor-elektro yang paling luas dari semua hewan yang hidup.
Hingga saat ini, tidak jelas apakah organ dalam kelompok-kelompok yang berbeda adalah sama secara evolusioner dan pengembangan.
Dengan menggunakan axolotl Meksiko sebagai model untuk mewakili garis keturunan evolusi yang mengarah ke hewan darat, dan paddlefish sebagai model untuk cabang yang mengarah ke ikan pari, para peneliti menemukan bahwa sensorik-elektro berkembang dalam pola yang sama persis dengan jaringan embrio yang sama pada pengembangan kulit, yang menunjukkan bahwa ini merupakan sebuah sistem sensorik yang sangat purba.
Para peneliti juga menemukan bahwa organ-organ sensorik-elektro berkembang berdekatan dengan garis lateral, memberikan bukti kuat “bahwa kedua sistem sensorik ini berbagi warisan evolusi yang sama,” kata Bemis.
Para peneliti kini dapat membangun gambaran nenek moyang dari dua garis keturunan serta link dunia sensorik yang lebih baik pada fosil hewan maupun yang masih hidup, kata Bemis.
Studi ini didanai oleh Biotechnology and Biological Sciences Research Council di Inggris, National Institutes of Health, National Science Foundation, Whitehall Foundation dan Tontogany Creek Fund.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Teori Evolusi


Evolusi adalah gagasan bahwa bentuk kehidupan berkembang dari satu bentuk ke bentuk lain melalui mata rantai transformasi dan modifikasi yang tak pernah putus. Gagasan evolusi bukanlah hal baru. Gagasan ini dapat ditelusuri semenjak masa Yunani kuno.

Di masa Darwin sendiri, ada tujuh teori evolusi yang bersaing: teori Lamarck, Darwin, Haeckel, Neo-Lamarckian, T.H. Huxley, De Vries dan T.H. Morgan. Dari ketujuh teori evolusi ini, yang terbukti benar dan bertahan hingga sekarang adalah teori evolusi Darwin. Teori evolusi Darwin dicirikan dengan lima premis : kesamaan leluhur, gradualisme, spesiasi populasional, seleksi alam dan evolusi.
TeoriKesamaan LeluhurGradualismeSpesiasi PopulasionalSeleksi Alam
LamarckTidakYaTidakTidak
DarwinYaYaYaYa
HaeckelYaYa?Sebagian
Neo-LamarckianYaYaYaTidak
T.H. HuxleyYaTidakTidakTidak
De VriesYaTidakTidakTidak
T.H. MorganYaTidakTidakTidak Penting
Sumber : Mayr, 2001
Bukti Evolusi
Teori evolusi Darwin atau disebut juga teori evolusi lewat seleksi alam telah diterima oleh semua bidang biologi dan antropologi fisik modern sebagai kunci menjelaskan proses-proses evolusi. Bukti yang mendukungnya sangat banyak, antara lain:
Bukti fosil : fosil itu sendiri merupakan bukti evolusi karena menunjukkan adanya mahluk hidup yang muncul dan punah pada waktu-waktu yang terbatas dalam skala geologis.
Bukti Morfologi: Bentuk tubuh mahluk hidup tertentu memiliki kesamaan yang erat. Dasar kemiripan bentuk tubuh ini menunjukkan kalau mereka memiliki leluhur yang sama.
Bukti Embriologi: Janin-janin mahluk hidup pada masa awal terlihat sama. Manusia memiliki insang dan ekor misalnya. Hanya pada saat janin cukup besar, maka perbedaan antar spesies terlihat.
Bukti Vestigial: Keberadaan organ yang tidak seharusnya atau tidak perlu pada mahluk hidup tertentu seperti usus buntu pada manusia, gigi embrio paus balin dan mata banyak hewan gua, adalah bukti kalau organ ini warisan masa lalu evolusinya.
Bukti Biogeografi: Evolusi menjelaskan pola persebaran mahluk hidup. Menjelaskan mengapa di kepulauan pasifik tidak ada gajah atau hewan besar dan hanya ada serangga dan burung serta hewan-hewan kecil. Ia menjelaskan mengapa Indonesia terbagi menjadi zona asiatik, peralihan dan australis.
Bukti Molekuler: DNA yang penyusunnya sama pada semua mahluk hidup merupakan bukti kalau mahluk hidup di Bumi berasal dari satu leluhur. Proporsi kemiripan DNA menunjukkan seberapa dekat spesies tersebut dengan spesies yang dibandingkan.
Mekanisme Evolusi
DNA merupakan unsur pembentuk dasar mahluk hidup. Setiap reproduksi, DNA dari induk disalin ke anak lewat meiosis dan mitosis. Idealnya, DNA anak harus 100% sama dengan DNA induk (dalam kasus aseksual) atau 100% gabungan dari DNA induk (dalam organisme seksual). Walau begitu, kadang terjadi kesalahan dalam mekanisme peniruan diri ini sehingga gen (potongan dari DNA yang merupakan unit informasi biokimia) gagal menyalin dirinya dengan benar. Kejadian ini disebut mutasi.
Persentase mutasi sangat kecil dalam setiap kelahiran, namun jika dibentuk dalam populasi yang terus berkembang, maka proporsinya akan cukup besar. Karena gen dalam DNA memiliki berbagai derajat kesintasan, maka pengaruh mutasi tergantung pada gen yang dipengaruhinya pula. Jika gen tersebut penting untuk kesintasan, maka ada dua kemungkinan besar : mutasi tersebut berakibat organisme semakin baik dalam bertahan hidup atau sebaliknya. Contoh mutasi yang meningkatkan ketahanan adalah mutasi yang dialami penduduk Tibet sehingga mereka dapat hidup di dataran tertinggi di dunia tersebut atau pada penduduk Eskimo sehingga mereka mampu hidup tanpa konsumsi tanaman (Eskimo tinggal di kutub sehingga murni pemakan daging). Contoh mutasi buruk mengakibatkan penyakit tertentu sehingga seseorang cepat meninggal sebelum mencapai masa reproduksi. Ini adalah mekanisme yang disebut seleksi alam sehingga gen mutan tidak dapat terus ke generasi selanjutnya. Akibatnya, hanya mutasi yang baik yang terlestarikan. Seiring berjalannya waktu, mekanisme mutasi dan seleksi alam memunculkan ilusi seolah mahluk hidup telah dirancang dengan sangat baik sejak awalnya.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Seleksi Alam


Berikut adalah urutan logika bagaimana seleksi alam dirumuskan berdasarkan fakta sebagai premisnya.


Fakta 1
Tiap populasi punya tingkat kesuburan sedemikian tinggi sehingga jumlah anggotanya akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu bila tidak ada pembatas. Contoh bakteri dari satu membelah jadi dua, masing-masing membelah jadi dua sehingga ada empat, kemudian delapan dst.
Fakta 2
Namun karena ada faktor pembatas di lingkungan, maka populasi akan mencapai posisi optimum dimana hanya terdapat kenaikan atau penurunan yang rendah. Ukuran populasi menjadi stabil. Contoh, pinggiran cawan petri membatasi pertumbuhan bakteri.
Fakta 3
Sumber daya untuk setiap populasi terbatas. Contoh, makanan di dalam cawan petri terbatas.
Kesimpulan
Jadi, tercipta persaingan antar individu dalam populasi.
Fakta 4
Tidak ada dua individu yang mutlak sama. Contoh ada bakteri yang sedikit lebih besar dan ada yang sedikit lebih kecil.
Kesimpulan
Setiap individu memiliki derajat kelestarian yang berbeda dengan individu lainnya.
Fakta 5
Banyak sifat individu yang dapat diwariskan ke anak cucunya. Contohnya gen ukuran tubuh bakteri.
Kesimpulan
Seleksi alam terjadi dan berlangsung selama bergenerasi-generasi dan menyebabkan evolusi.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Jumlah Teman di Facebook Berkolerasi dengan Ukuran Area-area Tertentu di Otak


Profesor Rees dan rekan-rekannya menemukan hubungan yang kuat antara jumlah teman di Facebook individu dengan jumlah materi abu-abu di beberapa area otak.

Para ilmuwan yang didanai Wellcome Trust telah menemukan hubungan langsung antara jumlah ‘teman di Facebook’ dengan ukuran area-area tertentu di otak. Dalam penelitian yang dipublikasikan hari ini, para peneliti di University College London (UCL) juga menunjukkan bahwa semakin banyak seseorang memiliki teman di Facebook, semakin banyak pula teman di ‘dunia nyata’ yang cenderung dimilikinya.
Bagaimanapun juga, para peneliti menekankan bahwa mereka hanya menemukan korelasinya, bukan penyebab: dengan kata lain, data tidak menyebut apakah memiliki lebih banyak teman di Facebook mengakibatkan wilayah otak menjadi lebih besar atau apakah beberapa orang ‘terprogram’ untuk memiliki lebih banyak teman.
Situs jejaring sosial Facebook memiliki lebih dari 800 juta pengguna aktif di seluruh dunia. Situs ini memungkinkan orang untuk tetap berhubungan secara online dengan jaringan teman-teman. Ukuran jaringan ini sangat bervariasi, dengan beberapa pengguna hanya memiliki segelintir teman onlinesedangkan yang lain memiliki lebih dari seribu teman – namun, apakah variabilitas ini merefleksikan ukuran jaringan sosial di dunia nyata belumlah jelas.
Profesor Geraint Rees, peneliti klinis senior Wellcome Trust di UCL, mengatakan, “Jaringan sosial onlinememiliki pengaruh secara besar-besaran, namun kami memahami sangat sedikit tentang dampaknya pada otak kita. Ini menyebabkan banyak spekulasi tanpa dukungan tentang seberapa burukkah dampak internet bagi kita.
“Studi kami akan membantu kita untuk mulai memahami bagaimana interaksi kita dengan dunia yang dimediasi melalui jaringan sosial ini memungkinkan kita untuk mulai mengajukan pertanyaan cerdas tentang hubungan antara internet dan otak – Pertanyaan-pertanyaan yang ilmiah, bukan yang politik.”
Profesor Rees bersama rekan-rekannya di Institut Ilmu Saraf Kognitif UCL dan Pusat Pencitraan Saraf Wellcome Trust memindai otak 125 mahasiswa – semuanya pengguna aktif Facebook – dan membandingkan mereka berdasarkan ukuran jaringan teman-teman siswa, baik online maupun di dunia nyata. Temuan mereka dipublikasikan hari ini dalam jurnal Proceeding of Royal Society B.
Profesor Rees dan rekan-rekannya menemukan hubungan yang kuat antara jumlah teman di Facebook individu dengan jumlah materi abu-abu di beberapa area otak. Materi abu-abu merupakan jaringan otak di mana pemrosesan dilakukan. Salah satu area adalah amigdala, suatu wilayah yang berhubungan dengan pengolahan memori dan tanggapan emosional. Sebuah studi yang dipublikasikan baru-baru ini menunjukkan bahwa volume materi abu-abu di area ini ditemukan lebih besar pada orang yang memiliki jaringan teman yang lebih besar di dunia nyata – sedangkan studi ini menunjukkan bahwa hal yang sama juga berlaku pada orang yang memiliki jaringan teman online yang lebih besar.
Ukuran tiga area lainnya – sulkus temporal superior kanan, gyrus temporal tengah kiri dan korteks entorhinal kanan – juga berkorelasi dengan jaringan sosial online, namun tampaknya tidak berkorelasi dengan jaringan dunia nyata.
Sulkus temporal superior memainkan peran dalam kemampuan kita  memahami objek yang bergerak seperti biologis, dan kecacatan struktural di area ini telah teridentifikasi pada beberapa anak penderita autisme. Korteks entorhinal terkait dengan memori dan navigasi – termasuk menavigasi melalui jaringan sosial online. Sedangkan gyrus temporal tengah menjadi aktif dalam menanggapi pandangan orang lain selain terlibat juga dalam persepsi isyarat-isyarat sosial.
Dr. Ryota Kanai, penulis pertama studi ini menambahkan: “Kami telah menemukan beberapa area otak yang tampaknya menarik dalam kaitannya dengan jumlah teman yang kita miliki – baik ‘nyata’ maupun ‘virtual’. Pertanyaan menarik sekarang adalah, apakah struktur ini berubah seiring waktu – ini akan membantu kita menjawab pertanyaan apakah internet mengubah otak kita.”
Sambil memeriksa struktur-struktur otak, para peneliti juga menyelidiki apakah terdapat hubungan antara ukuran jaringan teman online seseorang dengan jaringan dunia nyatanya. Studi sebelumnya telah melihat hal ini, namun hanya dalam ukuran sampel yang relatif kecil.
Para peneliti UCL mengajukan beberapa pertanyaan pada para relawan seperti ‘Berapa banyak orang yang mengirim pesan teks untuk menandai acara perayaan (misalnya acara ulang tahun, pekerjaan baru, dan lain-lain)? ‘, ‘Berapa jumlah teman di buku telepon Anda?” dan ‘Berapa banyak teman sejak dari sekolah hingga kuliah yang masih bisa akrab dengan Anda sampai sekarang?’ Tanggapan-tanggapan menunjukkan bahwa ukuran jaringan online mereka juga terkait dengan ukuran jaringan di dunia nyata mereka.
“Temuan kami mendukung gagasan bahwa sebagian besar pengguna Facebook menggunakan situs tersebut untuk mendukung hubungan sosial yang ada, mempertahankan atau memperkuat persahabatan-persahabatan ini, bukan hanya menciptakan jaringan teman virtual yang sama sekali baru,” tambah Profesor Rees.
“Memahami otak’ merupakan salah satu tantangan strategis utama Wellcome Trust. Di Pusat Pencitraan Wellcome Trust, para dokter dan ilmuwan mempelajari fungsi kognitif yang lebih tinggi untuk memahami bagaimana pikiran dan persepsi timbul dari aktivitas otak, dan bagaimana proses tersebut memecah dalam penyakit neurologis dan psikiatris.
Mengomentari studi ini, Dr. John Williams, Kepala Ilmu Saraf dan Kesehatan Mental di Wellcome Trust, mengatakan: “Kita tidak bisa lepas dari internet dan dampaknya terhadap kehidupan kita, namun kita memahami sedikit dampaknya pada otak, yang kita tahu adalah dugaan dan dapat berubah dari waktu ke waktu. Studi baru ini mengilustrasikan bagaimana investigasi yang dirancang dengan baik dapat membantu kita untuk mulai memahami apakah otak kita berkembang karena beradaptasi dengan tantangan yang ditimbulkan oleh media sosial.”
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati


Lisse bersama timnya juga menemukan kesamaan antara debu di sekitar ETA Corvi dengan meteorit Almahata Sitta, yang jatuh ke bumi dan menghujani sekitar 600 fragmen di Sudan pada tahun 2008.

Teleskop Ruang Angkasa Spitzer milik NASA telah mendeteksi tanda objek-objek dingin menghujani sebuah sistem tata surya asing. Hujan lebat ini menyerupai kejadian di tata surya kita sendiri beberapa miliar tahun yang lalu selama periode yang dikenal sebagai “Pembombardiran Berat Akhir,” yang mungkin telah membawa air dan bahan-bahan pembentuk kehidupan lainnya ke bumi.
Bombardir komet yang dialami sistem ETA Corvi mirip dengan periode dalam sejarah tata surya kita yang disebut “Pembombardiran Berat Akhir”. Selama fase ini, yang terjadi sekitar 4 miliar tahun yang lalu, komet dan objek-objek dingin lainnya menghujani tata surya kita dan menghajar planet-planet di dalamnya, menghasilkan sejumlah besar debu. Bukti terjadinya badai komet ini dapat dilihat di berbagai bekas benturan dan kawah yang tercetak di bulan.
Sekarang, Spitzer mendeteksi segerombolan debu di sekitar Eta Corvi yang sangat sesuai dengan susunan kimiawi dari sebuah komet raksasa yang lenyap, kata Carey Lisse, ilmuwan senior riset di Applied Physics Laboratory di Laurel Johns Hopkins University, dan penulis utama makalah studi.
Sistem Eta Corvi berjarak sekitar 1 miliar tahun, yang menempatkannya ke dalam periode waktu yang tepat untuk terjadinya badai komet, kata para peneliti.
“Kami yakin telah memiliki bukti langsung Pembombardiran Berat Akhir yang sedang berlangsung dalam sistem bintang terdekat Eta Corvi, terjadi sekitar waktu yang sama dengan waktu dalam sistem surya kita,” kata Lisse.
Lisse mempresentasikan temuan hari ini (19 Oktober) dalam pertemuan Signposts of Planets di NASA Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Md. Rincian dari studi baru ini dipublikasikan dalam edisi mendatang Astrophysical Journal.
Bahan-bahan untuk kehidupan?
Jenis badai komet berat ini menjadi minat khusus para peneliti karena, sebagai objek es yang menumbuk planet-planet bagian dalam tata surya, mereka membantu membawa elemen-elemen pembentuk kehidupan ke bumi.
“Menariknya, kita melihat awal kehidupan di bumi pada akhir Pembombardiran Berat Akhir,” kata Lisse.
Para astronom tidak menemukan bukti langsung keberadaan sebuah planet di sekitar Eta Corvi, namun berdasarkan konten dari debu, dan kedekatannya dengan Eta Corvi, temuan ini menunjukkan bahwa satu atau lebih komet bertabrakan dengan objek berbatu seperti bumi.
“Mereka menghujani sebuah objek berbatu yang setidaknya berukuran Ceres [asteroid raksasa], atau sesuatu yang disebut super-Bumi,” kata Lisse. “Jika komet-komet itu menghantam satu sama lain, kita akan melihat kepulan yang sederhana dan tidak akan mencair dan bertransformasi seperti yang kami lihat.”
Para peneliti juga menggunakan detektor inframerah teleskop Spitzer untuk menganalisis cahaya yang muncul dari debu di sekeliling Eta Corvi. Para astronom menemukan tanda-tanda kimia – seperti es cair, organik dan batu – yang menunjuk sebuah komet raksasa sebagai sumbernya.
Lisse bersama timnya juga menemukan kesamaan antara debu di sekitar ETA Corvi dengan meteorit Almahata Sitta, yang jatuh ke bumi dan menghujani sekitar 600 fragmen di Sudan pada tahun 2008. Kesamaan antara fragmen meteorit Sudan dan objek dingin yang menghajar sistem Eta Corvi akan menunjukkan tempat kelahiran yang sama dalam tiap-tiap sistem surya.
Dari mana komet-komet ini berasal?
Para astronom juga menemukan sebuah cincin debu dingin kedua yang lebih besar di tepi jauh dari sistem Corvi Eta yang tampaknya menjadi lingkungan yang sesuai untuk menyimpan es komet dan objek-objek lainnya. Cincin terang dan berdebu ini ditemukan pada tahun 2005, dan letaknya dari Eta Corvi sekitar 150 kali jarak dari bumi ke matahari.
Wilayah dalam sistem Eta Corvi ini mirip dengan Sabuk Kuiper tata surya kita, tempat objek-objek dingin dan berbatu sisa dari pembentukan planet-planet. Sabuk Kuiper adalah tempat sejumlah besar objek beku yang secara kolektif dikenal sebagai obyek-objek Sabuk Kuiper. Data baru dari Spitzer menunjukkan bahwa meteorit AlmahataSitta mungkin berasal dari Sabuk Kuiper kita.
Sekitar 600 juta tahun setelah tata surya kita terbentuk, atau sekitar 4 miliar tahun yang lalu, para astronom menduga bahwa Sabuk Kuiper terguncang akibat migrasi gas raksasa Jupiter dan Saturnus. Gangguan dalam keseimbangan gravitasi tata surya ini menyebarkan objek-objek es di Sabuk Kuiper.
Gangguan gravitasi melemparkan banyak objek dingin ke dalam ruang antar bintang, yang menghasilkan debu dingin di dalam sabuk, namun beberapa di antaranya terlempar ke jalur orbit yang mendatangkan malapetaka pada planet-planet dalam tata surya.
Pembombardiran Berat Akhir ini berlangsung hingga 3,8 miliar tahun yang lalu, kata para peneliti. Komet-komet menghajar sisi bulan yang menghadap bumi, dan magma yang merembes keluar dari kerak bulan dan akhirnya didinginkan, menciptakan cahaya kontras dan bercak gelap di permukaan bulan, seperti fitur “Man on the Moon” yang bisa kita lihat saat ini.
Planet kita sendiri tidak kebal terhadap tumbukan selama bombardir ini, komet-komet yang menghantam bumi diperkirakan telah terendapkan air dan karbon di bumi, kata para peneliti.
“Kami rasa sistem Eta Corvi seharusnya dipelajari secara rinci untuk mempelajari lebih lanjut tentang hujan tumbukan komet dan benda-benda lain yang mungkin telah memulai kehidupan di planet kita sendiri,” kata Lisse.
Informasi lebih lanjut tentang Spitzer, kunjungi: http://spitzer.caltech.edu/ dan http://www.nasa.gov/spitzer
sumber:http://www.faktailmiah.com
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati


Mereka menemukan bahwa RCW 86 merupakan supernova Tipe Ia, sebuah tipe yang dipicu oleh kematian yang relatif damai untuk sebuah bintang yang mirip dengan matahari kita.

Dua teleskop ruang angkasa NASA membantu memecahkan beberapa misteri paling abadi mengenai laporan ledakan bintang yang pertama kali pernah terdokumentasi dalam sejarah astronomi – fenomena supernova kuno yang terdeteksi hampir 2.000 tahun yang lalu, kata para ilmuwan.
Pada tahun 185 Masehi, para astronom Cina menyaksikan apa yang mereka disebut sebagai “bintang tamu” misterius yang muncul di luar angkasa dan bertahan selama sekitar delapan bulan. Hingga tahun 1960-an, para ilmuwan menentukan bahwa objek kosmik tersebut merupakan pengamatan supernova yang untuk pertama kalinya terdokumentasi.
Kini, inframerah dari Spitzer Space Telescope dan Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) NASA mengungkapkan bahwa ledakan bintang tersebut terjadi di dalam wilayah ruang yang relatif bebas dari gas dan debu. Hal ini memungkinkan ledakan bintang melakukan perjalanan yang lebih jauh dan lebih cepat dari yang diperkirakan, kata para peneliti.
“Sisa supernova ini menjadi sangat besar, sangat cepat,” kata Brian Williams, seorang astronom dari North Carolina State University di Raleigh. “Dua hingga tiga kali lebih besar dari yang kami perkirakan untuk sebuah supernova yang ledakannya disaksikan hampir 2.000 tahun yang lalu. Sekarang, kami akhirnya mampu menentukan penyebabnya.”
Williams adalah penulis utama studi baru ini, yang rinciannya dijabarkan secara online dalamAstrophysical Journal.
Gambar ini mengkombinasikan data dari empat teleskop ruang angkasa yang berbeda untuk menghasilkan sebuah tampilan multi-panjang gelombang semua yang tersisa dari contoh supernova tertua yang terdokumentasi, yang disebut RCW 86. (Kredit: NASA/ESA/JPL-Caltech/UCLA/CXC/SAO)
Supernova kuno
Supernova kuno, yang disebut RCW 86 ini, terletak sekitar 8.000 tahun cahaya dari Bumi. Namun, meskipun lokasinya diketahui, banyak rinciannya yang diselimuti misteri.
Salah satu teka-tekinya adalah fakta bahwa sisa bola bintang itu lebih besar dari yang diperkirakan. Jika sebuah bintang yang meledak bisa dilihat dalam cahaya inframerah di luar angkasa saat ini, semestinya mengambil ruang lebih dari bulan purnama, kata para peneliti.
Dengan menggabungkan data terbaru dari Spitzer dan WISE bersama informasi yang ada dari Chandra X-Ray Observatory milik NASA dan XMM-Newton Observatory milik Badan Antariksa Eropa, para astronom mampu memahami bagian teka-teki yang hilang.
Mereka menemukan bahwa RCW 86 merupakan supernova Tipe Ia, sebuah tipe yang dipicu oleh kematian yang relatif damai untuk sebuah bintang yang mirip dengan matahari kita. Bintang ini menyusut menjadi bintang padat yang disebut kurcaci putih sebelum menyedot materi, atau bahan bakar, dari bintang pendamping di dekatnya. Kurcaci putih kemudian meledak dalam sebuah ledakan supernova yang cemerlang.
“Sebuah bintang kurcaci putih bagaikan bara berasap dari api yang terbakar habis,” kata Williams. “Jika Anda menuangkan bensin di atasnya, ia akan meledak.”
Penelitian ini untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa sebuah bintang kurcaci putih dapat membuat wilayah kosong mirip rongga dalam ruang di sekitarnya sebelum meledak dalam peristiwa supernova Tipe Ia. Kehadiran rongga ini akan menjelaskan mengapa sisa-sisa RCW 86 sedemikian besarnya, kata para peneliti.
Ketika ledakan terjadi, rongga ini memungkinkan material ledakan terpental tanpa terhambat oleh gas dan debu. Ini juga memungkinkan sisa-sisa bintang terlempar dengan cepat.
Gambar-gambar inframerah dari Spitzer Space Telescope dan Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) NASA dikombinasikan pada gambar RCW 86 ini, sisa-sisa berdebu contoh sebuah bintang yang meledak, atau supernova tertua yang terdokumentasi. (Kredit: NASA/JPL-Caltech/UCLA)
Petunjuk kosmik yang lain
Dengan menggunakan Spitzer dan WISE, para peneliti mengukur temperatur debu yang membentuk sisa-sisa RCW 86. Mereka kemudian menghitung seberapa banyak gas yang telah hadir di dalam sisa supernova untuk memanaskan debu hingga mencapai temperatur tersebut.
Mereka menemukan bahwa sisa supernova hadir dalam lingkungan kepadatan yang rendah, yang menunjukkan adanya rongga.
Sebelumnya, para ilmuwan menduga bahwa RCW 86 terbentuk dari sebuah supernova yang disebut keruntuhan-inti, yang terjadi ketika inti bintang mencapai massa titik kritis dan mengalami kolaps dari dalam. Supernova keruntuhan-inti merupakan jenis supernova yang paling kuat.
Sementara terdapat petunjuk tentang rongga di sekitar RCW 86, pada masa itu fenomena ini hanya terkait dengan supernova keruntuhan-inti. Dalam ledakan kosmik seperti ini, bintang besar menghempas materi sebelum bintang itu meledak, yang membuka celah bebas-debu di sekitarnya.
Namun, Williams dan rekan-rekannya mampu menyingkirkan kemungkinan bahwa RCW 86 adalah supernova keruntuhan-inti. Data sinar-X dari Chandra dan XMM-Newton menunjukkan bahwa objek tersebut terdiri dari sejumlah besar zat besi, yang secara tradisional merupakan indikator yang jelas dari sebuah supernova Tipe Ia.
Dengan menggabungkan pengamatan-pengamatan ini dengan data inframerah, para astronom mampu menunjukkan bahwa RCW 86 adalah ledakan Tipe Ia dalam sebuah rongga.
“Para astronom modern mengungkapkan salah satu rahasia misteri kosmik berusia dua milenia hanya untuk mengungkapkan yang lainnya,” kata Bill Danchi, ilmuwan Program Spitzer dan WISE di Markas NASA di Washington, DC. “Kini, dengan beberapa observatorium yang memperluas indera kita pada ruang angkasa, kita dapat sepenuhnya mengapresiasi fisika yang luar biasa di balik pergolakan kematian bintang ini, namun masih sebatas kekaguman terhadap kosmos sebagai astronom kuno.”
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Manusia Tidak Berevolusi dari Kera


Manusia tidak berevolusi dari kera yang hidup sekarang namun dari sebuah leluhur fosil yang juga menurunkan kera tersebut. Sebagian orang salah percaya kalau ada mata rantai yang hilang antara kera dan manusia – mahluk “separuh kera”, “separuh-manusia” yang secara perlahan berubah menjadi kita.

Kesalahpahaman ini datang dari pandangan kuno mengenai evolusi sebagai sebuah tangga kronologis kemajuan. Proses evolusi tidak “memperbaiki” spesies seiring waktu pada skala nilai mutlak tertentu. Lebih baik menggambarkan evolusi sebagai sebuah semak besar dengan banyak cabang, sebagian tumbuh, sebagian sekarat. Manusia mewakili satu pucuk pada cabang hominoid.
Leluhur kita mungkin berbeda secara unik dengan manusia maupun kera. Karena simpanse dan manusia telah berevolusi setidaknya 5 juta tahun, simpanse juga sama berbedanya dengan leluhur bersama kita seperti kita terhadap leluhur bersama kita.

Gambaran yang Salah tentang Evolusi Manusia


Gambaran Evolusi Manusia yang Benar
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Apa Itu Sains?


Sains utamanya berurusan dengan pemahaman bagaimana dunia fisik bekerja. Sains adalah sebuah proses dimana kita mencoba memahami bagaimana dunia fisik bekerja dan bagaimana ia bisa begitu. Dunia fisik mencakup dunia yang dapat kita amati dengan indera kita dengan atau tanpa bantuan teknologi.

Sains tidak dapat membuktikan segalanya. Proses sains, ketika digunakan dengan benar, sesungguhnya berusaha menyanggah gagasan (hipotesis) dengan pengujian atau penantangan hipotesis lewat pengamatan (data) yang dikumpulkan dari eksperimen yang dirancang dengan hati-hati. Bila gagasannya bertahan terhadap pengujian, maka ia menjadi lebih kuat, dan lebih mungkin merupakan penjelasan yang akurat. Sains adalah sebuah proses yang hanya dapat menghasilkan penjelasan yang “mungkin” atau “sangat mungkin” untuk fenomena alam; tidak pernah ada kepastian. Dengan informasi, alat, atau pendekatan baru, penemuan sebelumnya dapat digantikan oleh penemuan baru.
Sains tidak dapat memecahkan semua masalah atau menjawab semua pertanyaan
Relung sains terbatas pada pemecahan masalah mengenai dunia fisik, sebuah dunia yang dapat kita amati dengan indera kita. Sains tidak memiliki perangkat yang baik untuk mengatasi relung supernatural, tidak pula relung nilai dan etika, relung yang tidak dapat diamati oleh indera kita. Penjelasan ilmiah harus dapat dibuktikan salah secara potensial. Penjelasan berdasarkan kekuatan supernatural, nilai-nilai atau etika tidak dapat dibuktikan salah dan karenanya tidak masuk dalam wilayah sains.
Tidak semua studi yang dilakukan hati-hati dan berdasarkan pengamatan bisa digolongkan sebagai sains
Sains harus mengikuti aturan-aturan tertentu; jika tidak, ia bukan sains (sama halnya sepakbola tidak dapat disebut sepakbola bila aturannya tidak diikuti). Aturan sains ditujukan untk membuat prosesnya se-objektif mungkin, dan karenanya menghasilkan derajat pemahaman yang sedekat mungkin dengan realitas. Penjelasan ilmiah harus beradasarkan pada pengamatan yang hati-hati dan pengujian hipotesis.
Sesuatu dikatakan objektif bila tidak dipengaruhi oleh perasaan, keinginan, dan prasangka. Lawan dari objektif adalah subjektif yaitu sesuatu yang dipengaruhi perasaan, keinginan, dan prasangka.
Sains dapat dilaksanakan dengan buruk. Tidak semua yang dilakukan secara ilmiah itu akurat dan handal.
Sains dapat dilaksanakan dengan buruk, sama seperti setiap perbuatan manusia lainnya. Kita semua bisa salah, sebagian dari kita membuat lebih sedikit kesalahan dari yang lain, sebagian mengamati lebih teliti dari yang lain, namun kita masih tetap subjektif juga pada akhirnya. Mekanisme koreksi diri dalam sains meningkatkan kehandalan hasilnya.
Berbagai ilmuan dapat memperoleh solusi yang berbeda pada masalah yang sama. Sains dapat dipengaruhi oleh ras, gender, kebangsaan, agama, politik, atau minat ekonomi ilmuan.
Sumber bias yang disengaja atau tidak disengaja yang masuk dalam sebuah studi dapat menghasilkan berbagai solusi atas masalah yang sama. Para ilmuan adalah manusia, dan walaupun mereka mengikuti aturan tertentu dan mencoba seobjektif mungkin, baik dalam pengamatan maupun penafsiran, bias mereka tetap ada. Bias rasial tak sadar, bias gender, status sosial, sumber pendanaan, atau topangan politik dapat dan memang mempengaruhi persepsi dan penafsiran seseorang. Sayangnya, sains terlalu sering disalah gunakan. Karena ia bekerja terlalu baik, ada orang-orang yang mencoba menggunakan nama sains untuk “membuktikan” keyakinan favoritnya, bahkan walaupun aturan sains tidak diterapkan. Kasus demikian disebut “pseudosains”. Selain itu, sebagian ilmuan juga telah diketahui melakukan penipuan, untuk mendukung gagasan mereka. Karya demikian biasanya terekspos cepat atau lambat, karena sistem tinjau sejawat dan penelitian ilmuan lainnya.
Pengetahuan mengenai apa itu sains, apa yang dapat dan tidak dapat ia lakukan, dan bagaimana ia bekerja, penting bagi semua orang
Orang mesti mampu mengevaluasi informasi ilmiah dan membuat keputusan mengenai informasi tersebut. Informasi ilmiah digunakan untuk mendukung argumen politik, mengiklankan produk, dan memberi tahu orang mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan mereka. Penting bagi semua orang untuk melek secara ilmiah agar mampu berpikir kritis mengenai apa yang harus dipilih, apa yang harus dibeli, dan bagaimana melindungi kesehatan mereka.
Sumber
Rodriguez, A.M. 2002. What Is Science.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati


Para peneliti mengatakan bahwa mereka mengamati tidak adanya peningkatan risiko untuk tumor sistem saraf pusat atau untuk semua kombinasi kanker pada pengguna ponsel.

Tidak ada hubungan antara penggunaan jangka panjang ponsel dan tumor otak atau tumor sistem saraf pusat, demikian temuan dalam penelitian baru yang dipublikasikan dalam British Medical Journal.
Jumlah pengguna ponsel terus meningkat dengan lebih dari lima miliar pelanggan di seluruh dunia pada tahun 2010. Hal ini menyebabkan kekhawatiran tentang potensi efek yang merugikan kesehatan, terutama tumor pada sistem saraf pusat.
Penelitian sebelumnya terhadap hubungan antara penggunaan ponsel dan tumor telah cukup meyakinkan, terutama bagi penggunaan ponsel dalam jangka panjang. Beberapa studi sebelumnya, yang mengambil bentuk studi kasus kontrol, hanya melibatkan sejumlah kecil pengguna jangka panjang dan terbukti rentan terhadap kesalahan dan bias. Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) baru-baru ini bahkan mengklasifikasikan medan elektromagnetik frekuensi radio, seperti yang dipancarkan ponsel, sebagai kemungkinan karsinogenik pada manusia.
Satu-satunya studi cohort (studi analisis di mana kelompok yang memiliki karakteristik serupa dimonitor dari waktu ke waktu bersamaan dengan kelompok lain yang berbeda karakteristik), yang menyelidiki penggunaan ponsel dan kanker, hanyalah studi nasional Denmark yang membandingkan risiko kanker dari 420.095 pelanggan telepon selular di Denmark dari tahun 1982 hingga 1995. Penelitian ini tidak menemukan bukti adanya peningkatan risiko tumor otak atau sistem saraf atau kanker apapun di kalangan pelanggan telepon seluler.
Jadi para peneliti, yang dipimpin Institute of Cancer Epidemiology di Kopenhagen, melanjutkan studi ini hingga tahun 2007.
Mereka mempelajari data pada seluruh penduduk Denmark berusia 30 dan lebih yang lahir di Denmark setelah tahun 1925, dibagi lagi menjadi pelanggan dan non-pelanggan ponsel sebelum tahun 1995. Informasinya dikumpulkan dari operator jaringan telepon Denmark dan dari Daftar Kanker Denmark.
Secara keseluruhan, 10.729 tumor sistem saraf pusat terjadi pada masa studi 1990-2007.
Ketika angka tersebut dibatasi untuk pengguna terpanjang telepon selular – 13 tahun atau lebih – tingkat kanker ternyata hampir sama pada pengguna jangka panjang maupun non-pelanggan ponsel.
Para peneliti mengatakan bahwa mereka mengamati tidak adanya peningkatan risiko untuk tumor sistem saraf pusat atau untuk semua kombinasi kanker pada pengguna ponsel.
Mereka menyimpulkan: “Perpanjangan studi ini memungkinkan kami menyelidiki efek pada orang yang telah menggunakan ponsel selama 10 tahun atau lebih, dan penggunaan jangka panjang ini tidak terkait dengan risiko yang lebih tinggi terkena kanker.
“Bagaimanapun juga, sebagaimana peningkatan risiko yang kecil hingga sedang pada subkelompok pengguna berat atau bahkan setelah periode induksi yang lebih lama dari 10-15 tahun, tidak boleh dikesampingkan, studi lebih lanjut dengan penelitian populasi yang besar, di mana potensi kesalahan klasifikasi eksposur dan bias seleksi bisa diminimalkan, masih diperlukan.”
Dalam penyertaan editorial, Profesor Anders Ahlbom dan Maria Feychting dari Institut Karolinska di Swedia mengatakan bahwa ini merupakan bukti baru yang meyakinkan, tapi pemantauan secara terus-menerus pada register kesehatan dan cohort prospektif masih diperlukan.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati


Neutrino meluncur lebih cepat daripada cahaya? Hal ini tampaknya menjadi kesimpulan dari pengukuran yang dilakukan oleh tim peneliti di bawah pimpinan Dario Autiero, seorang peneliti CNRS, sebagai bagian dari eksperimen internasional OPERA. Hasil yang tak terduga ini dipublikasikan pada Jumat, 23 September 2011, pukul 2:00 (waktu Paris) dalam jurnal arXiv, dan disajikan pada hari yang sama pada pukul 4:00 am dari CERN, di Jenewa, dalam sebuah seminar yang disiarkan secara online.
Pada tahun 1905, teori relativitas Einstein telah membuktikan bahwa tidak ada yang mampu melebihi kecepatan cahaya dalam vakum. Namun, lebih dari satu abad kemudian, setelah tiga tahun pengukuran berpresisi sangat tinggi dan analisis yang kompleks, eksperimen OPERA telah membawa hasil yang sama sekali tak terduga: perjalanan neutrino secara signifikan ke depan lebih cepat daripada cahaya pada jarak yang sama dalam vakum.
Percobaan OPERA didedikasikan untuk mengobservasi dan mendeteksi sinar neutrino yang dihasilkan akselerator CERN di Jenewa dari jarak 730 km di laboratorium bawah tanah Gran Sasso, Italia. Perjalanan cahaya selama 2,4 milidetik. Namun percobaan OPERA telah mendeteksi neutrino mencapai Gran Sasso selama 60 nanodetik lebih cepat. Dengan kata lain, setelah berjalan 730 km, neutrino melewati garis finish 20 meter di depan foton hipotetis yang melakukan perjalanan pada jarak yang sama.
Detektor neutrino di laboraturium Gran Sasso, Italia (INFN). (Kredit: Paolo Lombardi INFN-MI)
“Kami telah menetapkan suatu sistem yang memungkinkan kami mencapai sinkronisasi antara CERN dan Gran Sasso dengan akurasi nanodetik dan kami telah mengukur jarak antara kedua situs ke dalam 20 cm. Karena ketidakpastian yang rendah dari pengukuran ini, kami sangat yakin dengan hasil kami ini,” kata Dario Autiero, peneliti CNRS dari Institut Fisika Nuklir (IPNL) di Lyon. “Dengan demikian, kami ingin membandingkan pengukuran kami dengan eksperimen lainnya, karena tidak ada dalam data kami yang menjelaskan mengapa neutrino tampaknya berjalan sedemikian cepat.” Hasil ini didasarkan pada pengamatan lebih dari 15.000 neutrino.
“Hasil ini benar-benar tak terduga,” tekan Antonio Ereditato, dari University of Bern dan juru bicara untuk eksperimen OPERA. “Penelitian dan verifikasi selama berbulan-bulan belumlah cukup untuk mengidentifikasi efek instrumental yang bisa menjelaskan hasil dari pengukuran kami ini. Selagi para peneliti yang mengambil bagian dalam eksperimen ini akan terus bekerja, mereka berharap  membandingkan hasil mereka ini dengan eksperimen lain sehingga bisa sepenuhnya menilai sifat pengamatan ini.
Sejauh ini, kecepatan cahaya selalu dianggap tak mampu diungguli. Semestinya ini tidak menjadi kasus, ini bisa membuka perspektif teoretis yang sama sekali baru. Mengingat dampak besar yang dihasilkan itu bisa terjadi pada fisika, pengukuran independen diperlukan pada efek yang terobservasi untuk memperoleh kepastian apakah nantinya terbantahkan atau sebaliknya menjadi mapan. Inilah alasan mengapa para peneliti dalam kolaborasi OPERA ingin mengirimkan hasil ini untuk pemeriksaan sesama fisikawan di seluruh dunia.
Percobaan OPERA diresmikan pada tahun 2006 untuk mengamati transformasi langka (osilasi) dari neutrino muon ke neutrino tau. Salah satu osilasi yang terdeteksi pada tahun 2010, menunjukkan kapasitas eksperimen yang unik dalam hal deteksi sinyal neutrino tau yang sulit dipahami.
Empat laboratorium CNRS yang terlibat dalam percobaan OPERA adalah Institut Fisika Nuklir INPL di Lyon (CNRS/Université Claude Bernard-Lyon 1), Institut Pluridisciplinary Hubert Curien (CNRS/Université de Strasbourg), Laboratorium Akselerator Linear (CNRS/Université Paris-Sud 11), yang berpartisipasi hingga tahun 2005, Laboratorium Fisika Partikel di Annecy le Vieux (CNRS/Université de Savoie).
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati


"Kita cenderung menilai anak-anak dan menentukan program pendidikan mereka relatif awal dalam hidup, tapi di sini kami telah menunjukkan bahwa kecerdasan mereka masih mungkin untuk terus berkembang."

IQ, ukuran kecerdasan standar, dapat meningkat atau jatuh secara signifikan selama masa-masa remaja dan perubahan ini terkait dengan perubahan struktur otak kita, demikian menurut penelitian yang didanai Wellcome Trust.
Di sepanjang hidup, kemampuan intelektual kita dianggap stabil, dengan skor intelligence quotient (IQ) yang diambil pada satu titik waktu untuk digunakan dalam memprediksi prestasi pendidikan dan prospek pekerjaan di kemudian hari. Namun, dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan 20 Oktober dalam jurnalNature, para peneliti di Wellcome Trust Centre for Neuroimaging di UCL (University College London) dan Centre for Educational Neuroscience, untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa, pada faktanya, IQ kita tidak bersifat konstan.
Para peneliti, yang dipimpin Profesor Cathy Price, menguji 33 remaja sehat pada tahun 2004 ketika mereka berusia di antara 12 dan 16 tahun. Empat tahun kemudian, mereka kemudian mengulangi tes ketika para subjek yang sama sudah berusia antara 15 dan 20 tahun. Pada kesempatan kedua, para peneliti melakukan pemindaian otak struktural pada para subjek dengan menggunakan pencitraan resonansi magnetik (MRI).
Profesor Price dan rekan-rekannya menemukan perubahan yang signifikan terhadap nilai IQ pada tahun 2008 dibandingkan dengan nilai di tahun 2004. Beberapa subjek telah mengalami peningkatan kinerja relatif sebanyak 20 poin pada skala IQ standar, namun pada kasus lain, terdapat pula kinerja yang jatuh dalam jumlah yang sama.
Untuk menguji perubahan-perubahan ini, para peneliti menganalisis pindaian MRI untuk melihat apakah ada korelasinya dengan perubahan dalam struktur otak subjek.
“Kami menemukan sejumlah besar perubahan kinerja para subjek dalam tes IQ pada tahun 2008 dibandingkan dengan empat tahun sebelumnya,” jelas Sue Ramsden, penulis pertama studi. “Beberapa subjek secara nyata berkinerja dengan lebih baik namun beberapanya berkinerja jauh lebih buruk. Kami menemukan korelasi yang jelas antara perubahan dalam kinerja dan perubahan dalam struktur otak mereka, sehingga dapat mengatakan dengan pasti bahwa beberapa perubahan dalam IQ adalah nyata.”
Para peneliti mengukur IQ verbal setiap subjek, yang mencakup pengukuran bahasa, aritmatika, memori dan pengetahuan umum, serta IQ non-verbal mereka, seperti mengidentifikasi unsur-unsur yang hilang dari sebuah gambar atau memecahkan teka-teki visual. Mereka menemukan korelasinya yang jelas dengan area-area tertentu di otak.
Peningkatan dalam skor IQ verbal berkorelasi dengan peningkatan kepadatan materi abu-abu – sel-sel saraf di mana pengelolaan berlangsung – di area korteks motorik kiri otak yang diaktifkan ketika mengartikulasikan pembicaraan. Demikian pula, peningkatan skor IQ non-verbal berkorelasi dengan peningkatan kepadatan materi abu-abu di otak kecil anterior, yang berhubungan dengan gerakan tangan. Namun, peningkatan IQ verbal tidak harus bersamaan dengan peningkatan non-verbal IQ.
Menurut Profesor Price, tidak jelas mengapa IQ harus berubah sedemikian banyak dan mengapa kinerja beberapa orang membaik sedangkan yang lainnya malah menurun. Mungkin perbedaannya adalah karena beberapa subjek mengalami pengembangan yang lebih awal atau terlambat, tapi mungkin juga karena pendidikan berperan dalam mengubah IQ, dan ini memiliki implikasi untuk bagaimana anak-anak sekolah dinilai.
“Kita cenderung menilai anak-anak dan menentukan program pendidikan mereka relatif awal dalam hidup, tapi di sini kami telah menunjukkan bahwa kecerdasan mereka masih mungkin untuk terus berkembang,” kata Profesor Price. “Kita harus berhati-hati untuk tidak menulis berkinerja buruk pada tahap awal ketika pada kenyataannya IQ mereka masih bisa meningkat secara signifikan pada beberapa tahun lagi.
“Ini analog dengan kebugaran. Seorang remaja yang secara atletis bugar di usia 14 tahun, bisa menjadi kurang bugar di usia 18 tahun jika mereka berhenti berolahraga. Sebaliknya, seorang remaja yang tidak bugar bisa menjadi jauh lebih bugar dengan berolahraga.”
Penelitian lain dari Wellcome Trust Center for Neuroimaging dan kelompok penelitian lain telah memberikan bukti kuat bahwa struktur otak tetap ‘plastik’ (masih bisa berubah) bahkan di sepanjang hidup dewasa. Sebagai contoh, baru-baru ini Profesor Price menunjukkan bahwa para gerilyawan di Columbia yang telah belajar membaca saat dewasa memiliki kerapatan materi abu-abu yang lebih tinggi di beberapa area belahan kiri otak dibandingkan dengan mereka yang tidak belajar membaca. Profesor Eleanor Maguire, yang juga dari Pusat Wellcome Trust, menunjukkan bahwa bagian struktur otak yang disebuthippocampus, yang berperan penting dalam memori dan navigasi, memiliki volume yang lebih besar pada sopir-sopir taksi berlisensi di London.
“Pertanyaannya adalah, jika struktur otak kita dapat mengubah seluruh kehidupan dewasa kita, dapatkah IQ kita juga berubah?” Profesor Price menambahkan. “Dugaan saya adalah ya. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa otak kita dapat beradaptasi dan strukturnya mengalami perubahan, bahkan di masa dewasa.”
“Penelitian menarik ini menyoroti bagaimana ‘plastik’-nya otak manusia,” kata Dr. John Williams, Kepala Neuroscience dan Kesehatan Mental di Wellcome Trust. “Akan menarik untuk melihat apakah struktural mengalami perubahan-perubahan seiring kita bertumbuh dan berkembang melampaui IQ pada fungsi-fungsi kognitif lainnya. Penelitian ini menantang kita untuk berpikir tentang pengamatan ini dan bagaimana ini dapat diterapkan untuk memperoleh wawasan apa yang mungkin terjadi ketika seseorang menyerah pada gangguan kesehatan mental.”
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

It really was not real

sorry in advance,if my english in a mess

I'll tell you a secret

the secret is a story,not an ordinary story.Not a legend,myth,fairy tale or the other.It's about me
The secret is....................................
















































































































































I know you know that i don't know you,and vice versa

Hahaha,certainly it's not asecret
a secret is no secret if disseminated, u agree?




Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Free Class Of 2012 Cursors at www.totallyfreecursors.com